—Castrix Project—

Original Project

Kisah sang Iblis

Hero #1 - Kitab Pendosa

Hero #2 - Kitab Pahlawan

Hero #3 - Kitab Penutup

The Cursed Finger

The End



Translation Project

Mushoku Tensei

Saat ini umurku 32 tahun, seorang pengangguran, dan tak memiliki rumah. Gendut dan jelek, orang baik yang menyesali cara dirinya menjalani hidup. Tiga jam lalu aku masih memiliki rumah untuk pulang; Aku adalah seorang veteran pengangguran yang belum pernah menginjakkan kaki keluar rumah beberapa tahun kebelakang. Namun, kedua orang tuaku tiba-tiba meninggal tanpa aku sadari. Sebagai seorang pengangguran, aku bahkan tak mengikuti rapat keluarga, bahkan tak datang ke pemakaman. Pada akhirnya, aku diusir dari rumah. Aku memukul-mukul dinding dan lantai yang terbuat dari kayu, membuat irama-irama riuh karena tak ada siapapun di rumah. Pada hari itu aku onani di kamarku sendiri, kemudian saudara-saudaraku yang mengenakan pakaian serba hitam menggebrak pintu kamaraku. Mereka pun mengatakan bahwa mereka memotong hubungan kekeluargaan denganku. Aku mengabaikan mereka, kemudian adik laki-lakiku menghancurkan komputer kesayanganku dengan tongkat baseball. Padahal bagiku, komputer itu lebih berharga dari hidupku. Setengah gila, aku mendorong mereka, namun kakak laki-lakiku bersabuk hitam dalam karate, ia pun memukulku hingga babak-belur. Aku menangis dan memohon ampun pada mereka, tapi aku diusir dari rumah, bahkan tanpa diberi kesempatan untuk mengganti baju. Aku menahan rasa sakit di dadaku (sebagian besar tulang rusukku mungkin patah), dan berjalan linglung di jalanan. Cercaan kakak perempuanku bisa kudengar dengan jelas di telingaku. Sulit bagiku menerima celaan mereka. Hatiku benar-benar hancur. Kesalahan apa yang aku lakukan? Yang aku lakukan hanyalah onani pada video porno loli di hari pemakaman orang tuaku .... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak, aku tahu apa yang harus kulakukan. Mencari pekerjaan, kemudian mencari tempat tinggal, dan membeli beberapa makanan. Bagaimana aku harus memulainya? Aku tidak tahu bagaimana cara mencari pekerjaan. Yah, mungkin sedikitnya aku tahu tentang "Hello" (agensi yang menyiapkan pekerjaan). Tapi bagaimanapun juga aku belum pernah keluar rumah selama lebih dari 10 tahun ini, bagaimana bisa aku tahu di mana kantor Hello berada? Terlebih lagi, meskipun aku pergi ke Hello, aku mendengar bahwa mereka hanya memperkenalkanmu pada pekerjaan. Aku akan diharuskan membawa resum, pergi ke kantor yang direkomendasikan, dan mengikuti interview dengan pakaian kotor dan penuh bercak darah ini. Mana mungkin aku akan diterima. Jika dalam sudut pandang mereka, mungkin mereka akan bersimpati padaku, namun tidak mungkin mereka akan menerimaku. Apa di sekitar sini ada yang menjual kertas resum ya? Toko alat tulis? Toserba? Mungkin di toserba mereka menjualnya, tapi aku tidak memiliki uang. Lalu, bagaimana jika aku berhasil melewati semua itu? Misalnya aku beruntung, berhasil meminjam uang dari istitusi keuangan, kemudian membeli baju baru, dan membeli beberapa kertas resum serta alat tulis. Kudengar, kau tidak akan bisa menyelesaikan resum jika kau tidak mencantumkan tempat tinggalmu. Sial ... semua tamat. Tepat pada saat ini, aku menyadari bahwa hidupku sudah mencapai akhirnya. ... hah. Hujan mulai turun. Rintikan air hujan yang dingin, membasahi pakaian yang entah sudah berapa tahun aku gunakan, dan tanpa ampun merebut kehangatannya. Jika saja ... aku bisa mengulangnya dari awal. Tak ada yang bisa kulakukan selain berandai-andai. Jika melihat kebelakang, aku tidak dilahirkan sebagai manusia yang busuk seperti ini. Aku terlahir sebagai anak laki-laki ke tiga dari sebuah keluarga kaya. Memiliki dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki. Tepatnya anak ke empat dari lima bersaudara. Di SD, aku dipuji sebagai anak yang cerdas. Meskipun aku tidak begitu hebat dalam bidang akademik, aku cukup bagus dalam bermain game dan juga cukup jago dalam bidang olah raga. Bahkan aku pernah menjadi pusat perhatian di kelasku. Kemudian, ketika aku masuk SMP aku masuk ke klub komputer. Aku menabung uang untuk membeli komputer, mencari rekomendasi di majalah, hingga akhirnya komputer pertamaku berhasil terbeli. Pada saat itu, aku menjadi satu-satunya anggota keluarga yang bisa menulis program. Titik balik kehidupanku adalah pada saat SMA .... tidak, itu semua dimulai ketika kelas tiga SMP. Aku terlalu sibuk dengan komputerku hingga mengabaikan studi. Jika berpikir kebelakang, dari sanalah semua ini bermulai. Pada saat itu aku berpikir bahwa belajar adalah hal yang omong kosong. Kupikir bahwa semua yang diajarkan disekolah tak akan digunakan di kehidupan yang sebenarnya. Hingga akhirnya, aku masuk pada SMA paling bodoh, yang berada di prefektur paling buruk. Meskipun begitu, kupikir tidak masalah. Kupikir aku akan sukses jika aku serius, dan kupikir aku berbeda dengan para idiot yang ada di sekitarku. Aku masih ingat kejadian waktu itu. Ketika aku sedang mengantri di kafetaria, di sana ada seseorang yang memotong antrian. Aku protes padanya, mengatasnamakan kebenaran. Kejadian tersebut terjadi ketika aku sedang dalam masa chunnibyou. Sayangnya, dia adalah kakak kelasku, sekaligus juga salah satu dari dua siswa paling berbahaya di sekolah. Pada akhirnya aku malah dipukul hingga memar, kemudian ditelanjangi, lalu diikat di tiang bendera. Dia mengambil banyak gambar, kemudian menyebarkannya ke seluruh sekolah. Seketika itu juga aku terjatuh di tingkatan terendah di sekolah. Di tertawai oleh banyak orang, bahkan diberi julukan "KuTol (Kulit Kontol)"[1]. Aku tidak sekolah selama satu bulan, kemudian menjadi hikikomori (mengurung diri). Prihatin pada diriku yang saat itu, ayah dan saudara-saudaraku mengatakan kalimat yang benar-benar tak bertanggung jawab seperti, 'Kumpulkan keberanianmu, kau pasti bisa'. Padahal salahnya bukan pada diriku. Tak ada seorangpun yang melanjutkan sekolah setelah mengalami hal seperti itu. Tidak mungkin. Apapun yang orang lain katakan, aku tetap mengurung diri di kamar. Aku merasa bahwa orang-orang yang mengenalku pernah melihat foto telanjangku dan mencelaku. Meskipun aku tidak keluar rumah, selama aku memiliki komputer dan internet, aku bisa mengisi waktuku dengannya. Karena pengaruh internet, aku jadi tertarik pada banyak hal dan melakukan macam-macam hal pula. Seperti menyusun plastic model, mewarnai figur, membuat blog, dan lain-lain. Ibuku bahkan mendukung aktifitasku dengan uang yang ia hasilkan dari bekerja, selama aku memintanya. Tapi aku mulai bosan setelah kurang dari satu tahun. Aku kehilangan motivasiku kapanpun ketika aku melihat seseorang dapat melakukannya lebih baik dariku. Untuk orang lain, mungkin aku hanya terlihat bermain-main. Tapi sejak aku memiliki banyak waktu, bersembunyi di cangkang gelap ini. Aku tak memiliki kegiatan lain. Tidak, jika aku memikirkannya lagi, semua itu hanya alasanku semata. Setidaknya, akan lebih bajik jika pada saat itu aku menjadi mangaka dan mulai mempublikasikan web komik jelek, atau menjadi penulis dan mulai memposting web novel. Banyak orang dengan situasi yang sama melakukan hal-hal seperti itu. Tapi aku malah mencela mereka. Aku menghina karya-karya mereka, berpikir bahwa aku ini seorang kritikus, berkata buruk seperti 'Hah, apa-apaan ini, jelek!'. Padahal diriku sendiri tak membuat apapun .... Aku ingin kembali. Jika bisa, aku ingin kembali ke SD atau SMP, lalu hidup dengan sepenuh kemampuanku. Atau meskipun pada satu atau dua tahun yang lalu. Sedikit saja aku diberi waktu, aku akan masih bisa memanfaatkannya dengan baik. Meskipun aku menyerah di tengah-tengah, aku pasti bisa memulainya lagi dari awal. Jika aku berusaha dengan sekuat tenagaku, meskipun aku tidak menjadi yang terbaik, mungkin setidaknya aku bisa menjadi seorang profesional. "...." Mengapa aku tidak melakukannya hingga semua ini terjadi? Dahulu aku memiliki banyak waktu. Meskipun pada saat itu aku tidak keluar dari rumahku, aku bisa melakukan banyakhal selama aku duduk di hadapan komputer. Meskipun aku tidak meraih tingkatan teratas, aku mungkin bisa sampai di pertengahan dan melanjutkan usahaku. Manga, novel, game, bahkan coding. Jika saja aku berusaha dengan sekuat tenaga, aku pasti bisa menghasilkan sesuatu. Bahkan mungkin sesuatu itu dapat menghasilkan sesuatu yang bernama uang .... Ah, terlambat. Semua itu sia-sia. Aku tak pernah berkerja keras sebelumnya. Meskipun aku kembali ke masa lalu, mungkin aku akan melangkah di tempat yang sama, dan berhenti di titik yang sama pula. Aku berakhir seperi ini juga karena aku belum pernah melangkahi garis usaha yang orang normal bisa lakukan. "Hm ...?" Di suatu tempat di bawah hujan lebat, aku mendengar beberapa orang berdebat. Ada ribut-ribut apa di sana? Benar-benar menyebalkan. Aku tak ingin terlibat dengan mereka. Meskipun aku berpikir seperti itu, kakiku tetap melangkah karena perasaan. "——semua ini karena kau,——" "Kau yang memulai——" Memasuki jarak pandangku, sepertinya tiga orang siswa SMA sedang dalam persaingan cinta. Dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka mengenakan seragam berkerah dan satunya mengenakan seragam sailor. Sepertinya di sana sedang terjadi peperangan semacam harem. Seorang yang tinggi sedang bercekcok dengan si perempuan, dan satunya lagi sedang berusaha menjadi mediator, tapi dua orang yang bercekcok tak menghiraukannya sedikitpun. ("Hmm, dulu aku juga pernah mengalaminya,") Dahulu, aku pernah memiliki seorang teman masa kecil yang imut di SMP. Dia mungkin termasuk dalam kategori imut, nilainya empat atau mungkin lima. Dia masuk klub olah raga lari dan lapangan, dia juga memiliki rambut yang pendek. Dia memiliki penampilan yang dapat membuat dua, atau mungkin tiga dari sepuluh pria berbalik terpesona. Bagaimanapun, karena pada saat itu aku terobsesi dengan anime di mana karakter yang mengikuti klub lari dan lapangan harus memiliki rambut kucir kuda, jadi kupikir dia itu jelek. Bagaimanapun, rumahnya benar-benar dekat denganku, kami juga sering berada di kelas yang sama ketika SD, jadi kami pulang ke rumah bersama lebih dari sekali. Kami memiliki banyak kesempatan untuk mengobrol, bahkan sewaktu-waktu kami bertengkar. Benar-benar menyedihkan, melihat diriku yang saat ini, mendengar kata "SMA", atau "teman masa kecil", atau "klub lari" saja sudah cukup membuatku muncrat tiga kali. Ngomong-ngomong, kudengar bahwa temanku itu telah menikah tujuh tahun yang lalu. Aku mendengar rumor ini dari ruang keluarga, ketika saudara-saudaraku sedang mengobrol. Hubungan kami saat itu tidaklah buruk. Kami bisa mengobrol tanpa halangan karena kami telah mengenal sejak kecil. Aku tidak berpikir bahwa dia punya rasa suka padaku, tapi jika aku belajar dengan giat dan masuk ke SMA yang sama, atau ikut masuk klub lari dan lapangan dari rekomendasi, aku mungkin sudah mengibarkan 'tanda'. Jika saja aku benar-benar menembaknya, munkin kami bisa pacaran satu sama lain. Aku mungkin bisa bermesraan dengannya seperti tiga orang di sana, dan mungkin bisa melakukan hal mesmum di kelas kosong sepulang sekolah. Hah, game porno macam apa itu? ("Coba pikirkan lagi, tiga orang di sana benar-benar diberkahi, kuharap mereka meledak saja .... Hm?") Tiba-tiba, tampa kusadari .... Sebuah truk sedang melaju dengan kencang ke arah tiga orang di sana. Juga, si supir truk itu sedang tidak sadarkan diri. Dia seperti sedang dalam keadaan tidur lelap. Dan tiga orang di sana belum menyadarinya. !!!!! "Ba-, ba, baha ... ya!" Aku berusaha berteriak memperingati mereka, namun aku belum pernah menggunakan suaraku dengan keras selama sepuluh tahun kebelakang ini, hujan juga turun dengan lebat, dadaku juga sakit karena mungkin telah patah; Suara yang keluar malah sangat pelan ditelan oleh berisiknya rintikan hujan. Aku merasa bahwa aku akan merasa bersalah jika aku tidak menyelamatkan mereka, aku akan menyesalinya dalam lima detik kemudian. Aku pasti! Akan menyesalinya jika tiga orang itu tertabrak menjadi genangan darah. Menyesal karena tak menyelamatkan mereka. Karena itu aku harus menyelamatkan mereka. Apapun yang aku lakukan, kupikir aku akan sekarat di sisi jalan setelah aku melakukannya. Sebelum itu terjadi, setidaknya aku akan merasa puas karena telah menyelamatkan mereka. Aku tak ingin menyesalinya di akhir. Aku pun berlari kearah mereka—— Kakiku tidak bergerak sesuai keinginanku, karena aku belum begitu menggerakkannya selama sepuluh tahun kebelakang ini. Itu adalah satu-satunya saat dalam hidupku aku memohon untuk melatih tubuhku lebih baik. Tulang rusuk yang patah menggesek organ dalam tubuhku, memperlambat pergerakan langkahku. Itu adalah satu-satunya saat dalam hidupku aku berharap meminum lebih banyak kalsium. Menyakitkan. Sangat menyakitkan hingga membuatku merasa tak mampu berlari. Namun aku terus berlari dan berlari. Aku berlari—— Salah seorang lelaki yang sedang bercekcok menyadari bahaya truk menuju arahnya, ia secara refleks ia pun memeluk si perempuan untuk melindunginya. Seseorang yang lain berbalik dan belum menyadari keberadaan truk menuju ke arahnya, ia terkejut dengan perilaku tiba-tiba yang dilakukan oleh temannya itu. Aku pun menarik kerah laki-laki yang belum sadar itu tanpa ragu. Ia pun terlempar ke luar jalur truk oleh kekuatan 100 kilo berat badanku. Bagus, tinggal dua lagi. Seketika aku memikirkannya, truk tersebut sudah berada di hadapanku. Aku berencana mendorong mereka pada jarak yang lebih aman. Namun yang terjadi, aku malah menarik mereka ke arahku. Seperti yang kuduga, truk itu takkan berhenti meskipun menabrak sesuatu yang memiliki berat seratus kilo sepertiku. Sebagai hasil dari kakiku yang bergetar, aku ikut terbawa oleh momentum truk tersebut. Aku merasakan kilatan cahaya di belakangku ketika aku tertabrak. Bukankah ada yang mengatakan bahwa kau akan melihat kilatan cahaya ketika hendak mati? Aku kemudian tak bisa melihat apapun dalam pandanganku. Semua itu terjadi begitu cepat. Apakah itu berarti, bahwa aku tak berusaha sedikitpun? Aku dibawa terbang pada sebuah dinding beton oleh truk yang memiliki berat 50 kali dari berat badanku. "Puhh ....!" Seketika itu udara yang ada di paruparuku keluar. Membuatku terasa pengap, menginginkan udara setelah berlari keras. Aku tak bisa mengeluarkan suaraku. Tapi aku masih belum mati. Mungkin kegendutan ini yang menyelamatkanku .... Namun ketika aku memikirkannya, truk tersebut kembali muncul di hadapan mataku. Tubuhku menjadi penyot seperti tomat diantara truk dan dinding beton. ======== [Catatan Kaki]: 1. " ホーケー " itu maknanya kulit kemaluan pria sebelum sunat (Detail [NSFW!]). Kalo bahasa inggris artinya "Foreskin", kalo Indo secara bahasa sih artinya “Kulup”. Tapi karena "Kulup" itu serasa asing dan gak kedenger kaya hinaan, jadi diterjemahin “KuTol (Kulit Kontol)” aja. Prolog